Mom menjerit keras ketika Diva baru saja pulang dari
sekolah. Ia tersentak kemudian berlari masuk kerumah dan mendapati ibunya
tersungkur di lantai sedangkan Dad terlihat geram seperti telah melampiaskan
kemarahannya.
“Ada apa ini Mom?”
“Diva, kamu masuk kamar sekarang juga!” sentak Dad
“Dad, Diva sudah 17tahun. Diva sudah cukup dewasa untuk
mengerti permasalahan Mom and Dad. Please, semua bisa di bicarakan baik-baik
Dad.”
Mom terisak.
“Mom kamu ini masalahnya! Mom kamu ini gak pernah mengerti
Dad! Bisanya cuma nuntut dan bersungut-sungut! Dad capek Diva!” Dad
membantingkan dirinya ke sofa.
“Dad, sebenarnya aku sudah tahu semua permasalahan kalian.
Bagaimana tidak, setiap malam ketika kalian pikir aku sudah pulas, kalian
berteriak bersahut-sahutan. Permasalahan kalian cuma satu, tidak ada yang mau
mengalah.”
Mom sedikit tenang.
“Coba deh Dad memposisikan diri sebagai Mom yang setiap hari
di rumah ngurusin Boy dan Bray.
Mereka itu sudah lagi masa-masanya akhil balik yang Dad tau sendiri kan dimana
masa-masa itu adalah masa yang paling sulit di hadapi. Mereka labil dan sulit
di kendalikan. Disini Mom merasa suntuk sama seperti yang Dad alami saat ini di
pekerjaan Dad. Mom juga harus memposisikan diri Mom sebagai Dad yang dalam
pekerjaannya saat-saat ini sangat memeras pikiran dan tenaga.”
“Jadi maksud kamu, Mom harus gimana?”
“Mom cuma perlu mengerti dan memahami Dad, begitu
sebaliknya. Kalau Dad lagi cemberut, cobalah menghiburnya kemudian cari tahu
apa yang membuat Dad seperti itu, lalu beri kata-kata penguat supaya Dad
bersemangat atau apalah. Dan Dad, harus bisa menjelaskan permasalahan Dad saat
itu supaya Dad tidak merasa bekerja sendiri. Begitu juga saat Dad pulang kerja
dan melihat Mom sedang cemberut, saat itu Dad tidak boleh memaksa Mom untuk
tersenyum saat Dad pulang kerja.” Mom dan Dad saling pandang.
“Dad, Mom aku bukan kurang ajar sebagai anak. Aku cuma gak
ingin kejadian ini di lihat Boy and Bray. Aku tahu, harusnya mereka juga perlu
mengerti masalah ini tetapi cukuplah aku saja yang mengerti semua ini.” Aku
menunduk kemudian menangis.
Mom dan Dad merangkul ku.
“Maaf kan kami nak, Dad akan berusaha memperbaiki diri.”
