Powered By Blogger

Minggu, 11 Agustus 2013

Ilustrasi

Mom menjerit keras ketika Diva baru saja pulang dari sekolah. Ia tersentak kemudian berlari masuk kerumah dan mendapati ibunya tersungkur di lantai sedangkan Dad terlihat geram seperti telah melampiaskan kemarahannya.
“Ada apa ini Mom?”
“Diva, kamu masuk kamar sekarang juga!” sentak Dad
“Dad, Diva sudah 17tahun. Diva sudah cukup dewasa untuk mengerti permasalahan Mom and Dad. Please, semua bisa di bicarakan baik-baik Dad.”
Mom terisak.
“Mom kamu ini masalahnya! Mom kamu ini gak pernah mengerti Dad! Bisanya cuma nuntut dan bersungut-sungut! Dad capek Diva!” Dad membantingkan dirinya ke sofa.
“Dad, sebenarnya aku sudah tahu semua permasalahan kalian. Bagaimana tidak, setiap malam ketika kalian pikir aku sudah pulas, kalian berteriak bersahut-sahutan. Permasalahan kalian cuma satu, tidak ada yang mau mengalah.”
Mom sedikit tenang.
“Coba deh Dad memposisikan diri sebagai Mom yang setiap hari di rumah ngurusin  Boy dan Bray. Mereka itu sudah lagi masa-masanya akhil balik yang Dad tau sendiri kan dimana masa-masa itu adalah masa yang paling sulit di hadapi. Mereka labil dan sulit di kendalikan. Disini Mom merasa suntuk sama seperti yang Dad alami saat ini di pekerjaan Dad. Mom juga harus memposisikan diri Mom sebagai Dad yang dalam pekerjaannya saat-saat ini sangat memeras pikiran dan tenaga.”
“Jadi maksud kamu, Mom harus gimana?”
“Mom cuma perlu mengerti dan memahami Dad, begitu sebaliknya. Kalau Dad lagi cemberut, cobalah menghiburnya kemudian cari tahu apa yang membuat Dad seperti itu, lalu beri kata-kata penguat supaya Dad bersemangat atau apalah. Dan Dad, harus bisa menjelaskan permasalahan Dad saat itu supaya Dad tidak merasa bekerja sendiri. Begitu juga saat Dad pulang kerja dan melihat Mom sedang cemberut, saat itu Dad tidak boleh memaksa Mom untuk tersenyum saat Dad pulang kerja.” Mom dan Dad saling pandang.
“Dad, Mom aku bukan kurang ajar sebagai anak. Aku cuma gak ingin kejadian ini di lihat Boy and Bray. Aku tahu, harusnya mereka juga perlu mengerti masalah ini tetapi cukuplah aku saja yang mengerti semua ini.” Aku menunduk kemudian menangis.
Mom dan Dad merangkul ku.
“Maaf kan kami nak, Dad akan berusaha memperbaiki diri.”

Beberapa minggu, aku tidak pernah mendengar teriakan-teriakan malam itu lagi. Boy dan Bray juga sedikit berubah, emosi mereka tidak lagi meledak-ledak. Aku tidak hentinya berdoa semoga semua kejadian ini tidak pernah berakhir hingga aku menutup mata. Ini bukan karena aku, tetapi ini semua adalah lawatan Tuhan. Bila kita berserah dengan sungguh apapun masalah kita, Tuhan tidak akan pernah tidur. Ia tidak akan menutup telinganya untuk mendengar teriakan doa kita. Tetapi doa tanpa usaha pun tidak ada gunanya. Maka dari itu, marilah kita juga berusaha dengan keras memperbaiki segala kesalahan kita dan menutup kekurangan kita sedikit demi sedikit. We are do the best and let He do the rest. AMIN.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar