Ngomongin hal yang satu ini memang tidak ada habisnya. Banyak part yang
mendukung terjadinya sebuah debar dalam dada yang kebanyakan orang sebut
sebagai cinta. Mulai dari pacaran, PDKT, selingkuh, diselingkuhin, susah move on, CLBK, suka sama anak yang lebih
muda dari kita bahkan dari yang umurnya jauh lebih tua dari kita, dll. Jadi
kalau lo gak mengalami salah satu part
tersebut diatas maka, itu belum bisa disebut cinta #tsah
Dan saat ini gue ingin membagikan kisah yang (hampir) bisa disebut cinta,
yang gue alami beberapa bulan terakhir ini. Sebut saja namanya Putra, dia 6
tahun lebih muda dari gue. Yup, berondong bro.
Apa? Phedofil? Phedofil itu yang umurnya 15-25 tahun lebih muda kalik. Kalau masih
5-10 tahun lebih muda kayaknya masih wajar deh, kayaknya. Putra temen deket
adek gue, dia juga temen segereja gue sih. Benar, witing tresno jalaran soko kulino lagi. Ini bocah intens banget
smsin gue, dari mulai (entah) serius sampai gombal abis. Dari mulai twitter mention-mentionan sampai DM-DMan tiap
hari. Dari gue cuekin sampai akhirnya gue tanggepin eh malah dia capek, trus
mundur pelan-pelan. Padahal saat itu gue sedikit ngerasain deg-degan pas mau
ketemu dia di gereja. Tapi biasa saja setelah akhirnya gue tahu kalau dia butuh
gue jadi kakak. Nggak lebih. Iya, gue tahu ternyata dia lebih menyukai cewek
lain yang sepadan dengannya. Dari mulai bentuk badan dan mukanya. HAHAHA.
Mungkin Putra mendekati gue dengan tujuan mencoba latihan untuk lebih berani mendekati cewek yang
ditaksirnya kali ya. Gue sebenernya juga gak berharap banyak sih dari Putra,
lagian maklum lah secara dia lebih muda dari gue. Jadi mulai detik itu, gue
berpikir kalau gue emang bukan akan jadi pacarnya, tapi lebih asyik jadi
kakaknya. Gue mulai membiasakannya untuk memanggil gue ‘Mbak’ daripada ‘kamu’
seperti sebelumnya. Gue pun membiasakan diri memanggilnya ‘Dek’ untuk lebih
mempererat tali persaudaraan kita layaknya kakak-adik yang sesungguhnya.
Walaupun beberapa orang bilang, pacaran adalah kakak-adek-an yang tertunda.
Halah.
Kisah gue yang kedua adalah gue (akan) dijadikan yang kedua. Iya, wanita
mana yang ingin dijadikan kedua. Walaupun sebenarnya jadi yang kedua saat itu
adalah trend ababil jaman sekarang
sih. Tapi gue kan bukan ababil, sudah tobat jadi ababil lebih tepatnya. Jadi
sebelum gue sah dijadikan yang kedua, gue tersadar dari mimpi indah berbalut
kenyataan pahit itu. Ceritanya berawal dari Blackberry
Messengger as always. Gue yang saat itu newbie
of Blackberry user, dikirimin banyak pin BB dari temen SD, SMP, SMA, Kuliah
hingga nggak tau teman dari mana lagi yang ngirim pin BB itu. Efeknya gue
membabi buta menginvite semua pin BB
dari narasumber yang jelas-gak jelas tersebut, dan syukurnya mereka tidak ada
yang menolak undangan pin BB gue. Walaupun gue rasa, mereka kenal-gak kenal
sama gue. Khususnya teman-teman SD gue. For
your info, gue dulu jaman SD adalah seongok gadis kecil yang gak jelas bentuk mukanya karena saking
gendut dan anehnya model rambut gue. Jadi kalau mereka tau seongok gadis kecil
itu berubah menjadi seorang wanita yang lucu, imut dan menggemaskan gini mereka
pasti percaya gak percaya. Agak lebay sih, tapi ini kenyataan loh. Beberapa
teman SD gue mengakui hal tersebut, khususnya si Steve (bukan nama sebenarnya).
Yup, Steve inilah tersangka yang ingin menjadikan gue pacar keduanya sekaligus
menjadi korban photoshop foto yang
sering gue jadikan display picture for BBM
gue. HAHAHA.
Steve: Hi, ini sapa ya?
Me: Temen SD lo, bro!
Steve: Masa sih. Yang mana ya?
Me: Yang pernah duduk sebangku pas UAS. Pas kelas
6. Inget?
Steve: Kirim photo yang jelas dong :D *ini modus yang pertama*
Tanpa
prasangka apapun gue mengirimkan photo (asli tanpa photoshop, tapi yang paling bagus dari 5x jepretan) gue. Dicaptionnya gue tulis, “Sorry belum mandi :p” alih-alih supaya
kalau menurutnya jelek, dia bisa maklum kan “Oh ternyata belum mandi cantiknya
seperti ini.” Halah.
Beberapa
minggu setelah itu, gue mengupdate
status di BBM dan Steve mengomentarinya dengan ngechat gue panjang x lebar =
luas. *modus kedua*
Disini gue meladeni Steve karena gue ngerasa Steve tidak punya pacar alias
sudah putus sama pacarnya, (yang terakhir kali - setahu gue dari foto-foto yang
mereka publish di facebook, mirip
banget sama dia dari nama sampe muka #yekali. Sebut saja nama mantannya itu,
Step. Sudah itu yang paling bagus deh nama samarannya, menurut gue.) karena di
status relationshipnya di facebook, Steve single. Jadi jomblo + jomblo = fair
kan? Gue pun masi tidak punya prasangka buruk kepada Steve. Tapi anehnya Steve
tidak seberapa intens ngechat gue
duluan. Karena gue cewek, jadi untuk ngechat
cowok duluan adalah hal yang tabu. Yah, seenggak-enggaknya gue tidak terlihat
‘murah’ lah ya di dunia maya macam BBM, Facebook, Twitter, dll. Karena belum
tentu ketika elo asyik chat dengan seseorang, orang tersebut juga sedang dalam
keadaan yang asyik dan di tempat yang asyik. Kemungkinan mereka berbohong bisa
50%. So far, pengalaman yang gue tahu
sih gitu. Apalagi Steve ini tergolong
kriteria cowok cool versi gue karena
dia gak seberapa update status di
dunia maya. Jadi butuh waktu yang lama untuk gue ngechat Steve duluan. Gue juga pernah tanya alasan dia putus sama
pacarnya karena Step adalah cewek posesif. Dia terlalu mengekang pergaulan
Steve. Begitu ceritanya sejauh ini. Entah jujur atau mengada-ada. Hari yang gue
tunggu-tunggu pun datang, Steve mengupdate status BBMnya. Gue pun langsung
mengomentari statusnya dengan ngechat dia
panjang x lebar = luas juga. Dan tanpa disangka, disitu dia nembak gue.
Steve: Kita pacaran yuk?
Me: What? You kidding?
Steve: Gak mau ya?
Me: Hahaha. Bisa aja nih becandanya.
Steve: Seriusan ini.
Me: Gapercaya deh.
Steve: Mau minta bukti apa?
Me: Hmm terserah. Disini gue masih
gak percaya dan gue juga gak berani menyuruhnya untuk memasang photo gue
sebagai display picturenya dengan
status ‘Will you be my girlfriend?’ karena
gue ngerasa itu terlalu ababil dan gue masih gak siap kalau semua temen SD gue
tahu kalau gue akhirnya sama Steve, playboy kelas wader jaman SD gue dulu.
Lagian, Oh Men! Ditembak by BBM dengan kondisi gue belum pernah
ketemuan sama dia langsung setelah sekian tahun dan kita BBMnya juga gak
sesering orang PDKT pada umumnya. Tiap jam, tiap hari. Satu lagi, Steve
sekalipun gak pernah telepon gue. Emang sih gue gak pernah nyuruh Steve nelpon
gue, tapi gue sering pasang status nomer telepon gue, dan dia pun tahu itu.
Tapi tidak sekalipun Steve ada keinginan nelpon gue. Timbullah, INI PASTI ADA
YANG SALAH di pikiran gue sepanjang hari, minggu dan bulan. Karena kalau gue
dengar cerita dari temen gue, dia selalu teleponan, smsan, meskipun belum
pernah ketemu gebetannya juga. Tapi secara mereka beda tempat, Surabaya-Solo(kalau
gak salah sih). Nah ini, sama-sama tinggal di Surabaya, dan provider kita pun
sama. Apa susahnya ketemu dan berbicara sih? INI PASTI ADA YANG SALAH, selalu
terngiang dipikaran gue saat kita BBMan. Sampai akhirnya gue menemukan account twitter mantannya dan di timelinenya masih sering mention Steve
yang diakhiri dengan emoticon titik
dua bintang (baca: kiss) tapi dasarnya Steve kriteria cowok cool versi gue, jadinya dia gak pernah
bales mention mantannya itu. Saat gue tanya pun Steve berkilah, ‘yang penting kan, aku nggak mbales mention
dia say’. Saat gue ajakin ketemuan juga dia selalu berkilah, ‘iya kapan-kapan ya say. Janji deh.’
Tapi, INI PASTI ADA YANG SALAH dipikiran gue sedikit menghilang dengan
sikap-sikap manis yang dia ceritakan. Yang paling manis, terakhir kali yang gue
ingat adalah dia mbelain gak ikut satu mata kuliah karena dia ingin mencarikan
bahan skripsi gue di perpustakaannya yang emang gue suruh nyariin. Karena ya,
universitasnya adalah universitas yang dipakai panutan skripsi terbaik menurut
kampus gue. So sweet kan? Menurut gue
sih. Padahal gue juga gak tahu keadaan sebenarnya. Bisa jadi, emang lagi nggak
ada dosen atau emang lagi libur. Only God
knows, I think.
Pada akhirnya, mantan Steve follow
twitter gue karena mungkin Step tahu bahwa cuman mentionan gue yang dibalas Steve. Dengan bangganya, karena gue
ngerasa menang dan lebih unggul dari Step dan yang paling penting bisa bikin
Step jelous, ceritalah gue soal hal
itu ke Steve dan dari sinilah tabir sandiwaranya terungkap. Setelah kejadian
itu, suatu hari setelah gue lama gak BBMan sama dia juga gegara kehabisan
pulsa, gue nemuin Steve twitteran dengan Step dan temannya. Kambuhlah hobby stalk gue. Gue stalking timeline mantannya dan yes,
gue nemuin kalau mereka ternyata masih pacaran. Hell yeah! INI PASTI ADA YANG SALAH dipikiran gue selama ini terjawab
semua. Tanpa konfirmasi apapun, gue unfollow
dia (Step pun juga unfollow gue),
walaupun sebenernya nggak ngaruh, karena Steve too old-school dengan dunia maya. Kemudian gue update banyak status tentang Steve di Twitter yang masih berharap
dia akan baca dan sayangnya (mungkin) tidak. Hingga beberapa minggu kemudian,
setelah Steve menyadari bahwa gue benar-benar menghilang dan tahu skenario yang
dia mainkan, dia pun akhirnya baru berani mengupdate display picture mesra dengan Step, dan segala status-status
BBM yang menurut gue dulu itu untuk memancing gue supaya BBM dia duluan tapi
setelah gue tahu sekarang, semua itu sebenarnya hanya untuk Step. Fvck’n hurt huh! But it’s oke now. Secara
gue dasarnya bukan cewek yang gampang percaya gitu aja sama janji tanpa bukti,
jadi ya gue nothing to lose. Syukurnya
gue gak pernah menanggapi ucapan sayang-cintanya ke gue, emoticon-emoticon kiss and hug yang dia sering kirim sebelum tidur
pun selalu gue baca doang dan yang paling penting, gue gampang move on. Sebulan-dua bulan sudah sembuh
kok, cuman memang gue gak bisa bohong soal perasaan kalau gue (hampir) terjebak
di skenarionya. Thanks to my hobby and
social media btw.
Cerita gue yang terakhir ini masih berjalan sampai sekarang kayaknya. Kalau
yang ini, gue gak tahu sih posisi gue jadi apa. Antara jadi wanita penggembira
atau wanita yang dikejar-kejar gue gak tahu. Jadi ceritanya Afan adalah senior
gue dikampus. Dulu waktu dia masih kuliah, dengar-dengar Afan terkenal sebagai playboy. Dari tampangnya sih emang
kelihatan, tapi gue juga gak seberapa tertarik deh sama model playboy macam Afan ini. Tepatnya jauh dari
kriteria playboy versi gue. HAHAHA. Pertama-tama, gue sempat jadi korban ke-playboy-annya dulu. Yup, katanya Afan
suka sama gue. Padahal bulan lalu, gue denger kalau dia lagi getol deketin Novi
temen sekelas gue. Karena seperti yang gue pernah bilang, gue gak percaya sama
omongan orang yang simpang siur tanpa bukti dan juga Afan bukan kriteria cowok playboy versi gue. Jadi gue anggap semua
titipan salamnya (yang disampaikan teman gue) buat gue dan godaannya saat gue
lewat adalah kentut. Pretlah.
Suatu hari setelah dia lulus dari sana, dan kita jarang sekali ketemu
kecuali kalau dia sedang ada perlu dengan dosen dan jika dia menjemput pacarnya
yang sebenarnya, kita bertemu di Facebook. Itupun perlu waktu lama buat gue
untuk mengconfirm friend requestnya. Karena
saat itu gue benar-benar menganggapnya kentut. Jadi ngapain mengconfirm friend requestnya kentut,
soalnya pasti nanti yang dia bicarakan isinya cuman kentut saja. Berbobot tapi
gak ada maknanya. Seperti kentut kan, bau tetapi gak ada wujudnya. *Ini jadi
ngebahas kentut atau apa sih, woy!*
Akhirnya gue mengconfirm friend
requestnya, dan tidak lama setelah itu (dan kebetulan gue juga lagi online
lama), Afan pun ngechat gue. Disana
gue, masih dengan dinginnya menjawab semua pertanyaan gombalnya. Dari gue lagi mood facebookan sampai mood ancur gara-gara pertanyaan
gombalnya akhirnya gue tinggal offline tanpa pamitan. Afan juga sempat minta
nomer telepon gue tapi gak gue kasi
dengan alasan, ‘gak punya handphone,
adanya pin BB :D’ alih-alih supaya dia gak tanya nomer telepon gue lagi
tentunya. Dan berhasil untuk beberapa bulan setelahnya.
Lampu LED merah di BB gue pun nyala, 1 friend
request gue klik dan muncul lah nama Afan. What the hell! Ini orang beneran freak deh. Karena gue pernah bilang soal pin BB akhirnya gue mengconfirm friend requestnya di BB. BBMan
lah kita. Mulai dari membicarakan bola yang saat itu gue baru ngefans club Liverpool sampai membicarakan
kedekatannya dengan cewek-cewek lain, awkward
moment bagi gue. Sampai suatu hari kita pergi berdua karena memang gue
sudah janji mau pergi berdua dengannya. Disana gue dan Afan tetap membicarakan
cewek-cewek yang dikencaninya, termasuk ceweknya yang sebenarnya yang gue tahu
dan gue baru tahu kalau dia peramal. Yup, dia berusaha baca pikiran gue dan
berhasil. Disamping itu sedih juga ternyata, kisah cinta Afan dan ceweknya yang
sebenarnya ini. Mereka sebenarnya saling suka, tetapi terhalang ceweknya yang telah
dijodohkan oleh orang tuanya. Tapi gue tahu, Afan cinta mati sama ceweknya yang
sebenarnya ini. Buktinya kalau pacarnya yang sebenarnya ini marah dia bingung
mau ngapain, bahkan sampa bisa membuatnya stres katanya. Kurang cinta mati
apalagi coba. Kesimpulannya, se-playboy/playgirl
apapun seseorang, dia pasti sudah punya wanita/pria pilihan hatinya sebenarnya.
Jadi meskipun Afan masih sering BBM gue bilang kangen, dan lain sebagainya, gue
anggap semua cuman sebagai kentut. Syukurnya, gue bilang ke Afan kalau gue
sudah punya pacar yang jauh daripada dia. Percaya gak percaya itu urusan elo.
Sekian.
Debar itu selalu ada ketika kita akan bertemu seseorang yang ingin kita
temui. Tidak peduli wanita, laki-laki, tua, muda, lansia, dan lain sebagainya.
Itulah cinta. Tidak hanya antara lelaki dan perempuan saja, tetapi juga antara
anak dan orang tuanya. Adik dan kakaknya. Majikan dengan binatang peliharaannya
hingga makhluk hidup dengan Penciptanya ~

Tidak ada komentar:
Posting Komentar