Gadis berumur 23
tahun seharusnya sedang dalam masa memikirkan hubungan selanjutnya dari kisah
cinta mereka bersama kekasihnya. Seharusnya. Tetapi tidak dengan Terry. Entah
apa yang dipikirkannya, atau saking terlalu banyak yang Ia pikirkan sehingga,
untuk menjalin hubungan dengan seorang pria, jarang terbesit dibenaknya. Tidak,
Terry bukan penyuka sesama jenis. Ia normal.100% normal. Mungkin Terry terlalu
takut untuk sesuatu yang serius yang akan Ia hadapi ketika berpacaran dan atau
akan menjalin hubungan yang serius dengan seorang pria. Ia bahkan kadang
memberi batasan kepada pria tersebut untuk tidak masuk ke dalam hatinya lebih
dalam padahal Ia sangat mudah untuk jatuh cinta kepada seseorang dalam hitungan
detik. Entah mengapa, ketakutan itu sering muncul dengan sendirinya ketika
seorang pria sudah hampir akan menyatakan perasaannya padanya.
Terry adalah
seorang pendengar yang baik. Beberapa temannya senang bercerita dengannya
meskipun kadang Terry memberi masukan yang tidak masuk perasaan. Ya, lebih
kepada memberikan masukan berdasarkan logikanya, tidak peduli bagaimana
perasaan teman-temannya ataupun orang-orang yang diceritakan teman-temannya
itu. Terry lebih memainkan logika ketimbang perasaannya. Mungkin itulah yang
membuatnya cepat mengampuni seseorang yang sudah menyakitinya, tetapi tidak
untuk melupakan kesalahan apa yang telah mereka perbuat.
“Tapi Ter, aku
masih sangat mencintainya. Mustahil untuk tidak berkomunikasi sedetikpun
dengannya.”
“Berarti, kamu
harus siap untuk menyakiti dirimu sendiri nantinya. That’s love, isn’t?”
“Nah, itu kamu
tahu. Makanya cari pacar, biar kamu tahu rasanya.” Terry membalasnya dengan
senyuman kecut.
Bukannya Terry
tidak pernah merasakan cinta. Ia pernah tahu bagaimana rasanya berbunga-bunga
ketika seseorang memujinya, memanggilnya dengan sebutan yang ingin ia dengar
dari seseorang yang istimewa, memberikan ucapan-ucapan sepanjang hari, memberikan
perhatian walaupun hanya sebatas pertanyaan yang sama melalui telepon selular,
sesuatu yang tidak pernah ia harapkan dari orang tersebut untuk dilakukan
kepadanya, janji-janji yang tidak pernah terrealisasi dan bahkan tersakiti oleh
sebuah kebohongan yang manis. Terry pernah merasakan semua itu. Bukan kah Terry
sudah cukup merasakan apa itu cinta?
Terry sangat tidak
mudah menceritakan semua itu kepada sembarangan orang, kepada orangtua nya pun.
Jadi beberapa orang meragukan kejadian yang sebenarnya pernah Terry alami,
tetapi beberapa orang juga tidak percaya dengan apa yang tidak pernah Terry
alami. Ia membuka hatinya terhadap siapapun tapi tidak untuk menceritakan
kejadian sebenarnya kepada semua orang. Yes,
such complicated but she love herself much. Beberapa pertanyaan kadang
datang kepadanya, tidak kah kamu ingin hidupmu lebih berwarna? Tidak kah kamu takut
‘terlambat’ di usiamu yang sudah semakin dewasa ini? Semua pertanyaan itu Terry
lanjutkan dalam doanya. Dan jawabNya selalu tepat waktu dan tidak pernah terpikirkan
olehnya.
“Terry mau ada
yang kenal kamu nih.”
“Oh iya gak
apa-apa tante, suruh add pin Terry aja dulu.”
Beberapa saat
kemudian, seorang teman baru di kontak teleponnya bertambah. Terry’s rule is never contact the stranger
first. If they are need you, they’ll catch you first and it’s works.
“Hi cantik, aku
Adrian. Salam kenal ya.”
“Hi juga kamu yang
jauh disana. Tapi maaf, namaku bukan cantik.”
“Hahaiya,
maksudku fotomu cantik.”
“Haha
terimakasih.”
Tak butuh waktu lama untuk membuat Adrian
jatuh hati pada Terry. Terry is loveable.
Adrian adalah seorang pegawai negeri sebuah bank yang berbeda kepulauan dengan
dimana Terry tinggal. Umur Adrian berbeda satu tahun dengan Terry, itu sebabnya
cara pandang mereka sangat berbeda. Terry tidak pernah menemukan kecocokan
dengan Adrian, tetapi Adrian tidak merasa seperti itu terhadap Terry. Perasaan
Adrian sudah bulat terhadap Terry. Apapun yang Adrian lakukan semua hanya untuk
Terry, tapi itu hanya ia buktikan sebatas melalui telepon selular. Ya, mereka
belum sama sekali saling bertatap wajah tetapi Adrian sudah berani mengumbar
janji ini-itu kepada Terry. Seperti pengalaman-pengalamannya sebelumnya dan
seperti pengalaman beberapa orang belakangan ini, jangan pernah percaya dengan
dunia maya atau apapun yang hanya terhubung dengan sekotak layar alat
elektronik canggih.
Mempercayai seorang saja sulit bagi Terry, apalagi percaya dengan seorang asing yang baru dikenalnya dan tidak pernah Ia temui. Terry said to let this relationship flow, but nope for Adrian. Mungkin Adrian membutuhkan sebuah status untuk mengikatnya dan hal itu sangat tidak bisa diterima Terry sejauh ini dengan sikap Adrian yang berubah-ubah dan dengan waktu yang sangat singkat. Tetapi tidak dipungkiri, Terry merindukan pria tidak jelas itu saat Adrian tidak menghubunginya. Seperti saat ini, sudah satu bulan lebih Adrian tidak ada kabar sama sekali. Dan ya, tulisan ini mewakili betapa Terry merindukan Adrian yang tidak pernah ia harapkan selama ini.
