Powered By Blogger

Senin, 17 Maret 2014

Missing you..

Gadis berumur 23 tahun seharusnya sedang dalam masa memikirkan hubungan selanjutnya dari kisah cinta mereka bersama kekasihnya. Seharusnya. Tetapi tidak dengan Terry. Entah apa yang dipikirkannya, atau saking terlalu banyak yang Ia pikirkan sehingga, untuk menjalin hubungan dengan seorang pria, jarang terbesit dibenaknya. Tidak, Terry bukan penyuka sesama jenis. Ia normal.100% normal. Mungkin Terry terlalu takut untuk sesuatu yang serius yang akan Ia hadapi ketika berpacaran dan atau akan menjalin hubungan yang serius dengan seorang pria. Ia bahkan kadang memberi batasan kepada pria tersebut untuk tidak masuk ke dalam hatinya lebih dalam padahal Ia sangat mudah untuk jatuh cinta kepada seseorang dalam hitungan detik. Entah mengapa, ketakutan itu sering muncul dengan sendirinya ketika seorang pria sudah hampir akan menyatakan perasaannya padanya.

Terry adalah seorang pendengar yang baik. Beberapa temannya senang bercerita dengannya meskipun kadang Terry memberi masukan yang tidak masuk perasaan. Ya, lebih kepada memberikan masukan berdasarkan logikanya, tidak peduli bagaimana perasaan teman-temannya ataupun orang-orang yang diceritakan teman-temannya itu. Terry lebih memainkan logika ketimbang perasaannya. Mungkin itulah yang membuatnya cepat mengampuni seseorang yang sudah menyakitinya, tetapi tidak untuk melupakan kesalahan apa yang telah mereka perbuat.

“Tapi Ter, aku masih sangat mencintainya. Mustahil untuk tidak berkomunikasi sedetikpun dengannya.”

“Berarti, kamu harus siap untuk menyakiti dirimu sendiri nantinya. That’s love, isn’t?”

“Nah, itu kamu tahu. Makanya cari pacar, biar kamu tahu rasanya.” Terry membalasnya dengan senyuman kecut.

Bukannya Terry tidak pernah merasakan cinta. Ia pernah tahu bagaimana rasanya berbunga-bunga ketika seseorang memujinya, memanggilnya dengan sebutan yang ingin ia dengar dari seseorang yang istimewa, memberikan ucapan-ucapan sepanjang hari, memberikan perhatian walaupun hanya sebatas pertanyaan yang sama melalui telepon selular, sesuatu yang tidak pernah ia harapkan dari orang tersebut untuk dilakukan kepadanya, janji-janji yang tidak pernah terrealisasi dan bahkan tersakiti oleh sebuah kebohongan yang manis. Terry pernah merasakan semua itu. Bukan kah Terry sudah cukup merasakan apa itu cinta?

Terry sangat tidak mudah menceritakan semua itu kepada sembarangan orang, kepada orangtua nya pun. Jadi beberapa orang meragukan kejadian yang sebenarnya pernah Terry alami, tetapi beberapa orang juga tidak percaya dengan apa yang tidak pernah Terry alami. Ia membuka hatinya terhadap siapapun tapi tidak untuk menceritakan kejadian sebenarnya kepada semua orang. Yes, such complicated but she love herself much. Beberapa pertanyaan kadang datang kepadanya, tidak kah kamu ingin hidupmu lebih berwarna? Tidak kah kamu takut ‘terlambat’ di usiamu yang sudah semakin dewasa ini? Semua pertanyaan itu Terry lanjutkan dalam doanya. Dan jawabNya selalu tepat waktu dan tidak pernah terpikirkan olehnya.

“Terry mau ada yang kenal kamu nih.”

“Oh iya gak apa-apa tante, suruh add pin Terry aja dulu.”

Beberapa saat kemudian, seorang teman baru di kontak teleponnya bertambah. Terry’s rule is never contact the stranger first. If they are need you, they’ll catch you first and it’s works.

“Hi cantik, aku Adrian. Salam kenal ya.”

“Hi juga kamu yang jauh disana. Tapi maaf, namaku bukan cantik.”

“Hahaiya, maksudku fotomu cantik.”

“Haha terimakasih.”

Tak butuh waktu lama untuk membuat Adrian jatuh hati pada Terry. Terry is loveable. Adrian adalah seorang pegawai negeri sebuah bank yang berbeda kepulauan dengan dimana Terry tinggal. Umur Adrian berbeda satu tahun dengan Terry, itu sebabnya cara pandang mereka sangat berbeda. Terry tidak pernah menemukan kecocokan dengan Adrian, tetapi Adrian tidak merasa seperti itu terhadap Terry. Perasaan Adrian sudah bulat terhadap Terry. Apapun yang Adrian lakukan semua hanya untuk Terry, tapi itu hanya ia buktikan sebatas melalui telepon selular. Ya, mereka belum sama sekali saling bertatap wajah tetapi Adrian sudah berani mengumbar janji ini-itu kepada Terry. Seperti pengalaman-pengalamannya sebelumnya dan seperti pengalaman beberapa orang belakangan ini, jangan pernah percaya dengan dunia maya atau apapun yang hanya terhubung dengan sekotak layar alat elektronik canggih.

Mempercayai seorang saja sulit bagi Terry, apalagi percaya dengan seorang asing yang baru dikenalnya dan tidak pernah Ia temui. Terry said to let this relationship flow, but nope for Adrian. Mungkin Adrian membutuhkan sebuah status untuk mengikatnya dan hal itu sangat tidak bisa diterima Terry sejauh ini dengan sikap Adrian yang berubah-ubah dan dengan waktu yang sangat singkat. Tetapi tidak dipungkiri, Terry merindukan pria tidak jelas itu saat Adrian tidak menghubunginya. Seperti saat ini, sudah satu bulan lebih Adrian tidak ada kabar sama sekali. Dan ya, tulisan ini mewakili betapa Terry merindukan Adrian yang tidak pernah ia harapkan selama ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar