Kita hidup memang harus berdampingan dengan orang lain. Kita tidak dapat hidup sebatang kara di dunia ini. Kita harus saling melengkapi satu sama lain. Maka dari itu, manusia disebut makhluk sosial. Makhluk yang harus hidup bersama dengan orang-orang disekitarnya, yang tidak bisa hidup sendiri dan yang harus bergantung satu sama lain.
Tetapi tidak denganku. Aku sudah banyak mengenal macam-macam orang. Tentu saja aku mengetahui sifat-sifat mereka. Aku bahkan menghafal setiap apa yang akan mereka lakukan, setelah sesuatu terjadi dalam kehidupan mereka bahkan mengubah hidup mereka. Akupun menyimpulkan bahwa makhluk sosial itu tidaklah nyata. Mereka palsu.
Saudara ayahku mungkin makhluk hidup terpalsu yang pernah aku temui. Dalam satu kesempatan - dalam kurun waktu, tempat dan kondisi yang sama - mereka bisa saling berteriak, tertawa, menangis, kemudian seperti tidak terjadi apa-apa setelah itu. Yang lebih tidak masuk akal lagi, mereka menceritakan kepalsuan - yang tidak mereka sadari - itu kepada orang-orang yang - bahkan bisa dibilang - baru mereka kenal kemarin sore.
Aku tidak bermaksud menceritakan aib keluarga ayahku sendiri, tetapi aku lebih baik tidak mengenal mereka atau tidak mereka anggap sebagai saudara sekalipun lebih baik, daripada harus bersaudara dengan orang-orang yang aku sendiri bertanya-tanya mengapa mereka bisa tidak menyadari bahwa mereka sedang memalsukan diri sendiri?
Akupun terheran-heran, mengapa masih ada macam makhluk sosial seperti saudara ayahku tersebut? Tidak bisakah mereka berfikiran jernih mengenai mana yang harus dipalsukan dan mana yang harus benar-benar dilakukan sepenuh hati? Mungkinkah dipikiran mereka hanya ada diri mereka sendiri dan orang-orang yang mereka cintai? Mengapa pikiran mereka sependek itu ataukah mungkin usia yang membuat mereka berpikiran pendek? Tidak kah mereka mempunyai Tuhan untuk mengingatkan mereka?
Kalaupun masih ada, aku berharap mereka segera punah. Tetapi kalau mereka bertambah banyak, aku hanya bisa memberi satu saran kepada mereka, LEBIH BAIK MENJADI MANUSIA ANTI SOSIAL daripada menjadi makhluk sosial yang palsu. Mengapa menyusahkan diri menjadi makhluk sosial bila melakukannya membuat hati tidak tenang? Bukankah lebih baik menciptakan dunia kita sendiri - meskipun orang lain memandang kita gila - daripada sibuk mempedulikan kehidupan orang-orang yang tidak menganggap kita ada? Bukankah Tuhan kita adalah Tuhan yang mampu menyelesaikan segala kekuatiran anak-anaknya yang memohon belas kasihannya?
Cintailah dirimu sendiri sebelum membahagiakan orang lain. Berdamailah dengan dirimu sendiri sebelum menenangkan hati orang lain. Cinta damai termasuk dalam hal terbahagia dan menyenangkan, bukan?
Maka menjadi manusia tidak harus menjadi makhluk sosial, tetapi menjadi anti sosial hanya akan menjauhkan mu dari panggung sandiwara.
Tetapi tidak denganku. Aku sudah banyak mengenal macam-macam orang. Tentu saja aku mengetahui sifat-sifat mereka. Aku bahkan menghafal setiap apa yang akan mereka lakukan, setelah sesuatu terjadi dalam kehidupan mereka bahkan mengubah hidup mereka. Akupun menyimpulkan bahwa makhluk sosial itu tidaklah nyata. Mereka palsu.
Saudara ayahku mungkin makhluk hidup terpalsu yang pernah aku temui. Dalam satu kesempatan - dalam kurun waktu, tempat dan kondisi yang sama - mereka bisa saling berteriak, tertawa, menangis, kemudian seperti tidak terjadi apa-apa setelah itu. Yang lebih tidak masuk akal lagi, mereka menceritakan kepalsuan - yang tidak mereka sadari - itu kepada orang-orang yang - bahkan bisa dibilang - baru mereka kenal kemarin sore.
Aku tidak bermaksud menceritakan aib keluarga ayahku sendiri, tetapi aku lebih baik tidak mengenal mereka atau tidak mereka anggap sebagai saudara sekalipun lebih baik, daripada harus bersaudara dengan orang-orang yang aku sendiri bertanya-tanya mengapa mereka bisa tidak menyadari bahwa mereka sedang memalsukan diri sendiri?
Akupun terheran-heran, mengapa masih ada macam makhluk sosial seperti saudara ayahku tersebut? Tidak bisakah mereka berfikiran jernih mengenai mana yang harus dipalsukan dan mana yang harus benar-benar dilakukan sepenuh hati? Mungkinkah dipikiran mereka hanya ada diri mereka sendiri dan orang-orang yang mereka cintai? Mengapa pikiran mereka sependek itu ataukah mungkin usia yang membuat mereka berpikiran pendek? Tidak kah mereka mempunyai Tuhan untuk mengingatkan mereka?
Kalaupun masih ada, aku berharap mereka segera punah. Tetapi kalau mereka bertambah banyak, aku hanya bisa memberi satu saran kepada mereka, LEBIH BAIK MENJADI MANUSIA ANTI SOSIAL daripada menjadi makhluk sosial yang palsu. Mengapa menyusahkan diri menjadi makhluk sosial bila melakukannya membuat hati tidak tenang? Bukankah lebih baik menciptakan dunia kita sendiri - meskipun orang lain memandang kita gila - daripada sibuk mempedulikan kehidupan orang-orang yang tidak menganggap kita ada? Bukankah Tuhan kita adalah Tuhan yang mampu menyelesaikan segala kekuatiran anak-anaknya yang memohon belas kasihannya?
Cintailah dirimu sendiri sebelum membahagiakan orang lain. Berdamailah dengan dirimu sendiri sebelum menenangkan hati orang lain. Cinta damai termasuk dalam hal terbahagia dan menyenangkan, bukan?
Maka menjadi manusia tidak harus menjadi makhluk sosial, tetapi menjadi anti sosial hanya akan menjauhkan mu dari panggung sandiwara.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar