Judulnya emang umum banget karena emang kehidupan itu adalah pilihan. Setiap orang, setiap harinya di perhadapkan dengan berbagai pilihan. Beberapa orang tidak menyadari bahwa setiap detik kehidupannya adalah hasil dari sebuah pilihan yang tidak sengaja mereka pilih. Beberapa lagi menyadari bahwa hidup itu adalah pilihan, mereka memilih sesuatu yang benar dan memperbaiki sesuatu yang salah di kehidupan mereka. E buset, tumben banget gue bisa ngomong bener seperti ini. Haha. Gapapa, sekali-kali gitu yaa :D
Lanjut! Contohnya saudara gue, sebut saja Putra(bukan nama sebenarnya). Putra ini umurnya setahun lebih tua dari gue dan dia terlahir di keluarga yang bisa di bilang broken home. Bapaknya dari kecil uda tergolong lelaki “nakal” yang mungkin bawaan dari orangtuanya, Ibunya jadi ikutan “gak bener” gara-gara kenal sama bapaknya. Nah karena kedua orangtuanya seperti itu, tanpa diberikan waktu untuk memilih, Putra akan mewarisi sikap “ajaib” orangtuanya tersebut, begitu pula adik-adiknya. Seiring berjalannya waktu, Putra memilih untuk berusaha merubah sikap buruknya. Beberapa kerabat yang tidak sedarah tetapi seiman yang di sekitarnya berusaha membantunya dan bisa di bilang mempertaruhkan nyawanya supaya Putra gak jatuh lagi ke “lembah hitam”. Gue salut. Tetapi disini gue gak begitu percaya bahwa Putra bisa berubah karena menurut gue, Putra ini uda 20 tahun mengidap “sakit jiwa” . Jadi kalau hanya dari dirinya saja, tanpa orangtuanya, yang mempunyai kemauan untuk berubah, its nothing! Usahanya itu sia-sia. Dan benar saja, Putra jatuh bangun dalam usahanya memperbaiki diri. Disini gue bener-bener menyalahkan kedua orangtuanya, karena mengapa orangtuanya tidak memiliki sifat seperti anaknya? Mungkin mereka memilih untuk acuh tak acuh tentang masa depan anaknya, toh anaknya itu sudah besar dan pasti bisa berubah seiring berjalannya waktu. Oh, come on parents! Sadarkah kalian bahwa sedewasa apapun anak-anak kalian, tetapi bila tanpa dukungan dari kalian, usaha mereka akan lama menunjukan hasil. Beberapa orang berpikir bahwa where there is a will, there is a way. Yeah, thats so true! But remember, sebuah kemauan tanpa di dorong oleh orang-orang terdekat adalah sesuatu yang nihil. Orang-orang terdekat Putra adalah orangtuanya, orangtua kandung! No one else. Bahkan ketika Putra menangis sebegitu sakitnya tetapi bila orangtuanya tidak menyadari itu, tidak menutup kemungkinan bahwa ia berpura-pura. Intinya, usaha Putra untuk memperbaiki sifat adalah pilihan yang luar biasa termasuk orang-orang yang sudah mempercayainya dan mendukungnya. Tetapi pilihan orangtuanya lebih berpengaruh untuk hasil usaha Putra tersebut. Dalam case ini, gue saranin kepada suporter Putra supaya lebih memilih memperhatikan keluarganya juga. Orangtua plus adik-adiknya. Mempercayainya seseorang itu perlu tetapi jangan menutup mata untuk tindakan tak terduga dari seorang Putra karena sifat dari kecilnya lebih lama melekat di jiwanya daripadi semangat kalian yang Putra dengar beberapa tahun belakangan ini. Dan untuk orangtua Putra, gue terus berdoa supaya kalian juga memilih seperti apa yang anak kalian harapkan untuk masa depannya.
Sebelumnya gue minta maaf, karena disini gue gak mau menjelekan saudara gue sendiri tapi gue cuma ingin berbagi. Mungkin aja ada yang punya cerita sama dan kita bisa sharing. Gue disini memilih untuk netral, tidak memihak Putra, suporter apalagi orangtua Putra. Tidak ada maksut men-judge atau mengedukasi beberapa pihak tetapi berusaha menilai sisi positif yang ditimbulkan karena hidup adalah pilihan. Pilihan bukan sesuatu yang mudah untuk dilakukan tetapi sesuatu yang indah untuk kehidupan kita mendatang. Jadi berdoalah sebelum menentukan suatu pilihan anda. Sekian.
i want life like this


Tidak ada komentar:
Posting Komentar