Setiap orangtua itu sama saja, menginginkan nasib anaknya lebih baik dari mereka. Bila mereka melihat anak orang lain lebih sukses, mereka pasti bertanya-tanya “Kapan anak gue bisa seperti itu?”. Merekapun lalu berharap bila suatu hari nanti, kita, anak-anaknya bisa menjadi lebih baik dari orang-orang sukses itu.
Beberapa anak menganggap orang tua mereka cerewet, terlalu banyak menuntut dan yang jelek-jelek lainnya. Termasuk gue. Menurut gue, orang tua gue itu terlalu terkontaminasi sama berita-berita baik yang datang dari saudara-saudara nan jauh disano. Apalagi nyokap, kalo uda denger anaknya saudara gue baik dikit aja, pasti beliau langsung berkicau sepanjang hari. Bukannya durhaka sama orangtua sih, tapi kenapa gitu ya, gak punya cara lain yang lebih baik daripada berkicau. Boleh sih berkicau, tapi ya jangan sepanjang hari dong. Kuping plus hati jadi panas nih mom! Atau pake cara lain yaitu, berdoa. Jadi ya berdoa aja, simpan berita baik yang datang silih berganti lalu sebut nama anak kalian di doa kalian. Itu cara lain pertama.
Cara lain kedua bisa dengan menyampaikan kabar baik itu secara halus, tanpa ada asas penyindiran atau pembandingan. Contoh:
“Nak, tau gak sepupu kamu yang tinggal di X itu, dia sekarang kerja dimana hayo?”
“Masih di kantor Y itu kan ma?”
“Bukan. sekarang dia uda gak kerja soalnya lagi disekolahin sama perusahaannya di Jakarta.”
“Ya berarti kan masih kerja di kantor Y, ma.”
“Tidak, dia udah pindah di bank. Bank itu loh yang paling ternama, bank Z.”
“Owh. Hebat ya.”
“Banget. Mama harap kamu nanti bisa lebih baik dari dia ya. Jadi harus lebih semangat dan bekerja keras lagi dari sekarang.”
“Banget. Mama harap kamu nanti bisa lebih baik dari dia ya. Jadi harus lebih semangat dan bekerja keras lagi dari sekarang.”
“Siap ma! Doain juga yaa.”
Nah, enak kan kalo percakapannya macam di atas itu. Emang sih, setiap manusia itu berwatak berbeda. Ada yang keras, lembut bahkan lembek. Demikian juga antara Orangtua dan anak. Kadang kalo orangtuanya punya watak baik, anaknya juga. Ada juga yang orangtua berwatak lembut, anaknya kepala batu banget alias keras. Mungkin juga ada orangtua punya watak keras tetapi anaknya lembut banget sampai lembek. Gak tau tuh gimana bisa begitu, tapi kalian pernah denger juga kan ya yang seperti itu?
Jadi semua itu memang butuh penyampaian yang bagus. Misalnya kayak seorang Phsycolog. Kalo seorang Phsycolog itu gak banyak solusi untuk pasiennya, ya gak lama-lama deh dia jadi Phsycolog. Bahkan bisa jadi pasien yang lebih “sakit” dari pasien-pasien sebelumnya. Soalnya kenapa, yang namanya pasien itu kan sudah sakit, nah sebagai seorang phsycolog yang lebih dari dokter, dia harus lebih inovatif dong menangani pasiennya. Gak seperti dokter yang cuma bisa kasi obat yang sama pada setiap keluhan tanpa ada memberi masukan lain. Betul tidak?
Intinya disini adalah komunikasi. Untuk para orangtua, sampaikan keinganan anda kepada anak-anak anda dengan se-kreatif mungkin. Dan anda sahabat, mari kita lebihmembuka pikiran kita alias open minded supaya kita bisa mengambil setiap sisi positif dari apapun yang orangtua kita harapkan kepada kita dan teruslah berjuang sekuat tenaga. Satu lagi, jangan lupa berdoa. Ora et Labora. Salam Zuupeer. Maria Teguh #eaa

Tidak ada komentar:
Posting Komentar